HEADLINES :
, Jam :
Google Yahoo Msn
Tampilkan postingan dengan label Mutiara Hati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mutiara Hati. Tampilkan semua postingan

Para ulama mendefinisikan Syukur sebagai ungkapan aplikatif

Kata syukur sepadan dengan kata al-hamdu walaupun kata syukur lebih dekat pada pengucapan rasa terimakasih terhadap nikmat yang telah Allah swt. anugrahkan kepada seseorang, sementara kata al-hamdu merupakan ungkapan rasa terimakasih dalam bentuk umum.

Para ulama mendefinisikan Syukur sebagai ungkapan aplikatif dengan menggunakan segala apa yang dianugrahkan Allah swt sesuai dengan tujuan penciptaan anugrah itu. Karena itu syukur terbagai pada tiga bagian; syukur i’tiqodi (bersyukur dalam bentuk keyakinan), syukur qauli (bersyukur dalam bentuk ucapan) dan syukur ‘amali (bersyukur dalam bentuk perbuatan dan prilaku). Jadi untuk mensyukuri suatu nikmat secara sempurna, seseorang harus mengetahui terlebih dahulu untuk apa nikmat tersebut diciptakan dan dianugrahkan Allah swt. Misalnya, untuk apa mata, telinga, akal dan alam ini diciptakan Allah swt. Jika telah ditemukan jawabannya, maka gunakanlah nikmat itu sesuai dengan tujuan dimaksud.

Kalau kita telusuri ayat-ayat Al-Quran maka kita akan jumpai banyak ayat-ayatnya yang berkenaan tentang syukur; baik dalam bentuk kata kerja masa lampau, kata kerja masa kini dan akan datang dan kata kerja perintah, atau dalam bentuk masdar dan dalam bentuk isim fa’il. Kesemua bentuk tersebut memiliki tujuan tertentu, dan memberikan pelajaran kepada umat manusia bahwa apapun bentuknya dan bagaimanapun keadaanya manusia harus tetap bersyukur kepada Allah.

Kenapa demikian..??

Karena setiap orang sangat memerlukan Allah swt dalam setiap gerak kehidupannya. Dari udara untuk bernafas hingga makanan yang ia makan, dari kemampuannya untuk menggunakan tangannya hingga kemampuan berbicara, dari perasaan aman hingga perasaan bahagia, seseorang benar-benar sangat memerlukan apa yang telah diciptakan oleh Allah swt dan apa yang dikaruniakan kepadanya. Akan tetapi kebanyakan orang tidak menyadari kelemahan mereka dan tidak menyadari bahwa mereka sangat memerlukan Allah swt. Mereka menganggap bahwa segala sesuatu terjadi dengan sendirinya atau mereka menganggap bahwa segala sesuatu yang mereka peroleh adalah karena hasil jerih payah mereka sendiri.

Anggapan ini merupakan kesalahan yang sangat fatal dan benar-benar tidak mensyukuri nikmat Allah swt. Anehnya, orang-orang yang telah menyatakan rasa terima kasihnya kepada seseorang karena telah memberi sesuatu yang remeh kepadanya, mereka menghabiskan hidupnya dengan mengabaikan nikmat Allah swt yang tidak terhitung banyaknya di sepanjang hidupnya. Bagaimanapun, nikmat yang diberikan Allah swt kepada seseorang sangatlah besar sehingga tak seorang pun yang dapat menghitungnya. Allah swt menceritakan kenyataan ini dalam sebuah ayat sebagai berikut:

“Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tidak dapat menentukan jumlahnya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” An-Nahl:18.

Orang-orang yang beriman kepada Allah swt akan selalu menyadari kelemahan mereka di hadapan Allah swt sehingga mereka selalu memanjatkan syukur dengan rendah diri atas setiap nikmat yang diterima. Bukan hanya kekayaan dan harta benda yang disyukuri, namun mereka memahami bahwa Allah wt adalah Pemilik segala sesuatu, bersyukur atas kesehatan, keindahan, ilmu, hikmah, kepahaman, wawasan, dan kekuatan yang dikaruniakan kepada mereka, dan mereka mencintai keimanan dan membenci kekufuran. Mereka bersyukur karena telah dibimbing dalam kebenaran dan dimasukkan dalam golongan orang-orang beriman. Pemandangan yang indah, urusan yang mudah, keinginan yang tercapai, berita-berita yang menggembirakan, perbuatan yang terpuji, dan nikmat-nikmat lainnya, semua ini menjadikan orang-orang beriman berpaling kepada Allah, bersyukur kepada-Nya yang telah menunjukkan rahmat dan kasih sayang-Nya.

Dan perlu difahami juga bahwa syukur selain sebagai kewajiban manusia terhadap segala pemberian dan anugrah Allah swt sebagaimana yang telah disebutkan di atas, juga merupakan kebutuhan setiap orang, sehingga dengan prilaku syukur tersebut akan mendatangkan berbagai macam kebaikan dan kenikmatan lainnya, ditambah lagi banyak pahala yang telah dipersiapkan Allah swt orang-orang ahli syukur.

Ini merupakan rahasia lain yang dinyatakan dalam al-Qur’an; Allah swt menambah nikmat-Nya kepada orang-orang yang bersyukur. Misalnya, bahkan Allah swt memberikan kesehatan dan kekuatan yang lebih banyak lagi kepada orang-orang yang bersyukur kepada-Nya atas kesehatan dan kekuatan yang mereka miliki. Bahkan Allah swt mengaruniakan ilmu dan kekayaan yang lebih banyak kepada orang-orang yang mensyukuri ilmu dan kekayaan tersebut. Hal ini karena mereka adalah orang-orang yang ikhlas yang merasa puas dengan apa yang diberikan Allah swt dan mereka ridha dengan karunia tersebut, dan mereka menjadikan Allah swt sebagai pelindung mereka. Allah swt menceritakan rahasia ini dalam al-Qur’an sebagai berikut:

“Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih’.” Ibrahim:7.

Mensyukuri nikmat juga menunjukkan tanda kedekatan dan kecintaan seseorang kepada Allah swt. Orang-orang yang bersyukur memiliki kesadaran dan kemampuan untuk melihat keindahan dan kenikmatan yang dikaruniakan Allah swt.

Orang-orang mukmin sejati tetap bersyukur kepada Allah swt sekalipun mereka berada dalam keadaan yang sangat sulit. Seseorang yang melihat dari luar mungkin mengira berkurangnya nikmat pada diri orang-orang yang beriman. Padahal, orang-orang beriman yang mampu melihat sisi-sisi kebaikan dalam setiap peristiwa dan keadaan juga mampu melihat kebaikan dalam penderitaan tersebut. Misalnya, Allah swt menyatakan bahwa Dia akan menguji manusia dengan rasa takut, lapar, kehilangan harta dan jiwa. Dalam keadaan seperti itu, orang-orang beriman tetap bergembira dan merasa bersyukur, mereka berharap bahwa Allah swt akan memberi pahala kepada mereka berupa surga sebagai pahala atas sikap mereka yang tetap istiqamah dalam menghadapi ujian tersebut. Mereka mengetahui bahwa Allah swt tidak akan membebani seseorang melainkan sesuai dengan kekuatannya.

Sikap istiqamah dan tawakal yang mereka jalani dalam menghadapi penderitaan tersebut akan membuahkan sifat sabar dan syukur dalam diri mereka. Dengan demikian, ciri-ciri orang yang beriman adalah tetap menunjukkan ketaatan dan bertawakal kepada-Nya, dan Allah swt berjanji akan menambah nikmat kepada hamba-hamba-Nya yang mensyukuri nikmat-Nya, baik di dunia ini maupun di akhirat kelak.

Jika menilik surat Ar-Rahman, Allah swt membicarakan aneka nikmat-Nya dalam kehidupan dunia ini dan kehidupan akhirat kelak. Hampir pada setiap dua nikmat yang disebutkan, Al-Quran mengulangi satu pertanyaan dengan redaksi yang sama; maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu ingkari?

Pertanyaan tersebut terulang sebanyak tiga puluh satu kali. Sementara ulama menganalisis jumlah itu dan mengelompokkannya untuk kemudian sampai pada suatu kesimpulan.

Delapan pertanyaan berkaitan dengan nikmat-nikmat Allah swt dalam kehidupan dunia ini, antara lain nikmat pengajaran Al-Quran, pengajaran berekspresi, langit, bumi, matahari, lautan, tumbuh-tumbuhan dan sebagainya.

Tujuh pertanyaan kedua dalam kaitan dengan ancaman siksa neraka di akhirat nanti. Perlu diingat bahwa ancaman adalah bagian pemeliharaan dan pendidikan serta merupakan salah satu nikmat Allah swt.

Delapan pertanyaan ketiga berkaitan dengan nikmat Allah swt yang diperoleh dalam surga yang pertama.

Delapan pertanyaan keempat dalam kaitan dengan nikmat-nikmat pada surga kedua.

Dari hasil pengelompokkan demikian, para ulama menyusun semacam rumus yaitu siapa yang mampu mensyukuri nikmat-nikmat Allah swt yang disebutkan dalam rangkaian delapan pertanyaan pertama maka ia akan selamat dari ketujuh pintu neraka yang disebut dalam ancaman dalam tujuh pertanyaan berikutnya. Sekaligus dia dapat memilih pintu-pintu mana saja dari kedelapan pintu surga, baik surga pertama maupun surga kedua, baik surga kenikmatan duniawi maupun kenikmatan ukhrawi.

Bagitu agungnya kata syukur, dan bagitu besarnya orang yang mampu menysukuri segala nikmat Allah swt, walau dalam keadaan bagaimanapun dan kondisi apapun. Allahu akbar walillahilhamdu. Allahu a’lam

Syukur Nikmat membawa berkah dalam hidup

Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam pernah menceritakan (artinya):
“Ada tiga orang dari Bani Israil menderita penyakit belang, botak, dan buta. Allah hendak menguji mereka, maka Allah pun utus kepada mereka Malaikat.

Malaikat itu datang kepada si belang dan bertanya: Apakah yang paling kamu dambakan? Si belang menjawab: Saya mendambakan paras yang tampan dan kulit yang bagus serta hilang penyakit yang menjadikan orang-orang jijik kepadaku. Malaikat itu pun mengusap si belang, maka hilanglah penyakit yang menjijikkannya itu, bahkan ia diberi paras yang tampan. Malaikat itu bertanya lagi: Harta apakah yang paling kamu senangi? Si belang menjawab: Unta. Kemudian ia diberi unta yang bunting sepuluh bulan. Dan malaikat tadi berkata: Semoga Allah memberi barakah atas apa yang kamu dapatkan ini.

Kemudian Malaikat itu datang kepada si botak dan bertanya: Apakah yang paling kamu dambakan? Si botak menjawab: Saya mendambakan rambut yang bagus dan hilangnya penyakit yang menjadikan orang-orang jijik kepadaku ini. Malaikat itu pun mengusap si botak, maka hilanglah penyakitnya itu, serta diberilah ia rambut yang bagus. Malaikat itu bertanya lagi: Harta apakah yang paling kamu senangi? Si botak menjawab: Sapi. Kemudian ia diberi sapi yang bunting. Dan malaikat tadi berkata: Semoga Allah memberi barakah atas apa yang kamu dapatkan ini.

Kemudian Malaikat itu datang kepada si buta dan bertanya: Apakah yang paling kamu dambakan? Si buta menjawab: Saya mendambakan agar Allah mengembalikan penglihatanku sehingga aku dapat melihat. Malaikat itu pun mengusap si buta, dan Allah mengembalikan penglihatannya. Malaikat itu bertanya lagi: Harta apakah yang paling kamu senangi? Si buta menjawab: Kambing. Kemudian ia diberi kambing yang bunting.

Selang beberapa waktu kemudian, unta, sapi, dan kambing tersebut berkembang biak yang akhirnya si belang tadi memiliki unta yang memenuhi suatu lembah, demikian juga dengan si botak dan si buta, masing-masing memiliki sapi dan kambing yang memenuhi suatu lembah.

Kemudian Malaikat tadi datang kepada si belang dengan menyerupai orang yang berpenyakit belang seperti keadaan si belang waktu itu, dan berkata: Saya adalah orang miskin yang kehabisan bekal di tengah perjalanan. Sampai hari ini tidak ada yang mau memberi pertolongan kecuali Allah kemudian engkau. Saya meminta kepadamu -dengan menyebut Dzat Yang telah memberi engkau paras yang tampan dan kulit yang bagus serta harta kekayaan- seekor unta untuk bekal dalam perjalanan saya. Si belang berkata: Hak-hak yang harus saya berikan masih banyak.

Malaikat itu berkata: Kalau tidak salah saya sudah mengenalimu. Bukankah kamu dahulu orang yang berpenyakit belang sehingga orang lain merasa jijik kepadamu? Bukankah kamu dahulu orang yang miskin kemudian Allah memberi kekayaan kepadamu? Si belang berkata: Harta kekayaanku ini adalah warisan dari nenek moyangku. Malaikat itu berkata: Jika kamu berdusta, semoga Allah mengembalikanmu seperti keadaan semula.

Kemudian Malaikat itu datang kepada si botak seperti keadaan si botak waktu itu. Dan berkata kepadanya seperti apa yang dikatakan kepada si belang. Si botak juga menjawab seperti jawaban si belang tadi. Kemudian Malaikat tadi berkata: Jika kamu berdusta, semoga Allah ? mengembalikanmu seperti keadaan semula.

Kemudian Malaikat tadi mendatangi si buta dengan menyerupai orang buta seperti keadaan si buta waktu itu dan berkata: Saya adalah orang miskin yang kehabisan bekal di tengah perjalanan. Sampai hari ini tidak ada yang mau memberi pertolongan kecuali Allah ? kemudian engkau. Saya meminta kepadamu -dengan menyebut Dzat Yang telah mengembalikan penglihatanmu- seekor kambing untuk bekal dalam perjalanan saya. Si buta berkata: Saya dahulu adalah orang yang buta kemudian Allah mengembalikan penglihatan saya. Maka ambillah apa yang kamu inginkan dan tinggalkanlah apa yang tidak kamu senangi. Demi Allah, sekarang saya tidak akan memberatkan sesuatu kepadamu yang kamu ambil karena Allah Yang Maha Mulia. Malaikat itu berkata: Peliharalah harta kekayaanmu, sebenarnya kamu itu diuji dan Allah telah ridha kepadamu dan murka kepada kedua temanmu (si belang dan si botak).” (HR. Al Bukhari dan Muslim, hadits ini juga disebutkan oleh Al Imam An Nawawi dalam Riyadhush Shalihin hadits no. 65)

Di dalam sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wasallam yang mulia tersebut banyak terkandung faedah dan pelajaran beharga bagi kaum muslimin. Tidaklah Rasulullah menceritakan kisah kejadian umat terdahulu melainkan untuk menjadi pelajaran bagi umat yang datang setelahnya.
“Sesungguhnya pada kisah-kisah mereka itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai akal.” (Yusuf: 111)

Marilah kita buktikan dan realisasikan ungkapan syukur

Untuk mengetahui pengertian syukur yg sebenarnya, marilah kita perhatikan penjelasan di dalam kitab i'anatuththolibin berikut ini :

"Asysyukru lughotan huwalhamdul'urfiyyu, wa'urfan shorful'abdi jamii'a maa an'amallohu bihi 'alayh fiimaa chuliqo liajlih ay an yashrifa jamii'al a'dlooi walma'anillati an'amallohu 'alayh bihaa fiththoo'aatillati thulibasti'maaluhaa fiiha"

Artinya: "syukur menurut pengertian bahasa adalah pujian (alhamdulillah) sebagaimana umumnya. Adapun syukur menurut pengertian syari'at adalah menyalurkan (mendaya fungsikan) semua yg telah di karuniakan Alloh kepadanya menurut fungsi dan tujuan sesuatu itu di ciptakan. Dengan kata lain, menyalurkan semua potensi tubuh yg telah di karuniakan oleh Alloh ta'alaa. Baik secara formal maupun substansial untuk tujuan pengabdian kepada Alloh ta'alaa."

Dengan kata lain, bahwa bersyukur berarti menggunakan keni'matan dan anugerah Alloh ta'alaa. Pada misi pengabdian dan keta'an yg di ridloi-Nya.

Imam nawawi menjelaskan dalam kitab tafsirnya sebagai berikut:
"wakhaqiiqotusysyukri Al i'tirofu bini'matilmun'im ma'a ta'adhzimiih"

Artinya : "esensi syukur adalah pengakuan atas keni'matan yg di berikan oleh sang maha pemurah disertai sikap mengagungkan-nya"

Dengan demikian, kita menjadi tahu betapa pentingnya rasa syukur itu untuk senantiasa ditumbuhkan dan dijaga dalam diri kita. Sebab dengan bersyukur, maka kita akan selalu ingat kepada yg memberi, serta untuk apa keni'matan itu semestinya kita gunakan. Sikap bersyukur akan menjadi kontrol bagi kita agar selalu dapat menggunakan keni'matan sesuai fungsi yg sebenarnya.

Untuk dapat bersyukur dengan baik, kita perlu mengetahui bahwa karunia Alloh itu tidak hanya bersifat materi, namun mencakup banyak hal, antara lain kesehatan, kekaya'an, keahlian, kesempatan, kemampuan intelektual dan lain sebagainya. Bahkan karunia terbesar yg di berikang Alloh ta'ala, itu adalah keimanan. Maka kita mesti tergugah dan sadar untuk selalu memelihara dan memupuknya, sebagai realisasi dari rasa syuku akan anugerah tersebut. Sebaliknya, jika karunia yg kita miliki itu tidak di syukuri akan berakibat buruk pada diri kita sendiri.

Kekaya'an dan harta benda, apabila tidak di syukuri akan menjebak diri kita pada mental materialistik, hidup pada pola konsumeristik yg di perbudak oleh harta dan kekaya'an. Pada akhirnya akan menjauhkan diri kita dari jati diri sebagai manusia yg mulia. Alloh ta'ala mengingatkan dalam firman-Nya :
"Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaithon dan syaithon itu adalah sangat ingkar kepada Tuhannya" (Qs. Al isroo' : 26-27)

Marilah kita buktikan dan realisasikan ungkapan syukur atas segala ni'mat karunia Alloh yg telah di curahkan kepada kita dengan seoptimal mungkin. Kita gunakan umur, harta benda, kesehatan dan kemampuan tenaga serta ilmu yp kita miliki untuk berbakti kepada Alloh ta'alaa, memberikan kemaslahatan dan kemanfa'atan bagi diri sendiri, keluarga, masyarakat, agama, bangsa dan negara.

Dengan pembuktian syukur yg benar dan profesional, Alloh menjamin akan memberikan tambahan anugerah dan keni'matan yg lebih banyak dan kehidupan yg lebih baik, serta kelak memperoleh kebahagia'an di akhirat dan terhindar dari siksa api neraka.

Alloh ta'alaa berfirman : "sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (ni'mat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (ni'mat-Ku), Maka sesungguhnya 'adzab-Ku sangat pedih." (Qs. Ibrohim : 7)

secara tegas ayat tersebut menyatakan tentang syukur dan implikasinya, serta akibat buruk yg akan menimpa orang yg mengingkari anugerah dan ni'mat Alloh ta'alaa.

Semoga Alloh ta'alaa selalu memberikan penerangan hati kita, untuk selalu mengingat keni'matan yg telah kita terima, lalu kita mensyukurinya, amin.

Memahami berbagai makna hidup dalam lingkaran hukum alam

Mungkin diri yang terlalu dini dalam memahami berbagai makna hidup dalam lingkaran hukum alam sebagai landasan dalam perjalanan menggapi titik kebenaran, akan tetapi sebagai awal dari sebuah renungan tiadalah salah jika diri ini mencoba mengalir dalam bait-bait hakikat untuk menyelaraskan perjalanan syariat.

::: Hidup adalah suatu keindahan yang harus diterima dengan keindahan maka perjalanan sesuatu yg indah akan selalu indah
::: Hidup adalah sebuah anugerah yang harus tersadarkan pada makna dari anugerah itu sendiri sehingga apapun rotasi dalam hidup senantiasa menemukan titik ridho dalam makna jiwa.

::: Hidup adalah sendagurau yang harus dijalani dalam ruang jiwa yang membiaskan energi kemerdekaan dalam keterikatan dengan segala sendi tatanan dan struktur sosial hidup hingga bermuara pada kebahagiaan dan syukur yang hakiki.

::: Hidup haruslah paham akan muara hidup sehingga sadar jika hidup hanyalah untuk Tuhan semata.

Didalam keindahan hidup, akan mekar kuntum anugerah yg cemerlang dengan bias energi kedamaian sehinga senda gurau dapat dilakoni dalam tatanan kesadaran lalu memahami akan tujuan dan muara hidup.

Tuhan adalah Muara hidup, Ia sandingkan keindahan pada tatanan kehidupan agar kita dapat bersenda gurau dalam menikmati hidup sebagai makna anugerah, namun kadang kita tidak menyadari dan keliru untuk melakoni hidup. Bahkan kadang kita sering salah dalam ber-Tuhan namun kita tidak sadar akan kesalahan tersebut. Kita hanya mampu memandang, namun tak melihat secara utuh pada setiap falsafah hidup yang kita lalui, kita hanya bisa bicara namun tak mampu membahasakan dengan sempurna akan makna terdalam yang mengalir di balik jiwa.

Yang kita lakoni hanyalah sebatas syukur dibalik ketidak sempurnaan lakon syukur yang kita persembahkan. Kadang aku mendengar mereka bicara tentang berbagai falsafah hidup, ada yang memahami karena mereka mengalami, ada yang sebatas mendengar karena baru melangkah ke gerbang pemahaman, namun ada yang begitu banyak bicara walau tak menyadari jika sesungguhnya Ia belum memahami sedikitpun falsafah hidup yang sesungguhnya. Falsafah hidup bertajuk syukur adalah sebuah implementasi hidup yang melibatkan Tuhan dalam setiap irama hidup secara total dan mutlak adanya, sehingga hidup adalah hidup yang seirama dengan anugerah keilahian yang senantiasa mengalir setiap saat lalu mengarah pada kesempurnaan esensi hidup dalam rasa yang tak terdefinisikan maknanya.

Kita akan membaca segala kehendak Tuhan yang mengalir dari balik jiwa kita, lalu kitapun menjadi penonton akan berbagai lakon hidup kita dalam menjalani kehendak Tuhan, lakon itu begitu nyata dan kita pahami dengan kesadaran hati yang sempurna, kita merasa begitu bahagia menjalaninya. Kadang jika ada ketidak sempurnaan lakon itu maka Tuhan menghadirkan lakon-lakon yang dibawa oleh orang lain untuk melengkapinya dan kita berada pada posisi manajerial akan lakon tersebut karena kita memahaminya, dan akhirnya kita membuktikan dengan nyata akan segala kesempurnaan firman Tuhan. (maka nikmat Tuhan mu yang manakah yang kamu dustakan?)

Dan ini sangatlah berbeda jika kita tidak sampai pada pemahaman yang sempurna, kita hanya berada pada elemen terendah dalam falsafah hidup, namun kita merasa sudah sempurna dalam memahami ; memahami tentang hidup dalam syukur padahal sesunggunya tidak demikian. Syukur yang terpatri masihlah bersifat egosentris, dimana ketika jiwa memancarkan ego sebatas menerima hal-hal yang dipandang baik dan enggan menerima hal-hal yang kurang baik. Untaian syukur dilakukan sepenuh hati namun sebatas pada lantunan dan ucapan syukur dalam rangkaian kalimat do’a tulus. Dan tidak pada taraf kesadaran akan lakon diri dalam makna syukur.

Ketika diperhadapkan pada sebuah fenomena hidup, ego kembali muncul dalam merangkai do’a untuk menepis apa yang ada agar secepat mungkin berlalu, disinilah jiwa kehilangan kesempatan dalam membaca dan melakoni dengan sempurna akan makna hidup. Dan semua ini terjadi lantaran kita salah dalam memahami kehendak Tuhan, kita keliru mengerti makna hidup, bahkan kita cenderung SALAH DALAM BER-TUHAN.

Kita menempatkan Tuhan sebagai sosok yang lebih untuk di takuti dari pada untuk dicintai, akhirnya segala evolusi hidup kita sebatas pada takut akan kekejaman Tuhan dengan berbagai siksaan. Kita takut pada Tuhan lalu kita pun terjebak untuk membayar ketakutan kita dengan nilai ibadah yang mengandung konsekwensi pada kenikmatan syurga dan beranggapan Tuhan telah menerima kita.
Pada tatanan ini kita merasa paham tentang “apa itu Tuhan?” Yang maha pengasihkah..? padahal itu baru sebatas sifat-sifat Tuhan. Yang maha Memelihara.? Padahal itu baru sebatas perbuatan Tuhan. Lantas apakah itu Tuhan.?, yang dimanapun wajah dihadapkan disitu terlihat wajah Tuhan.?

Makna Syukur dalam islam

Syukur adalah ibadah yang sering ditinggalakan umat manusia banyak manusai gelisah hidup dalam ketakutan, hidup yang dibayangi dengan hal–hal yang tak mampu menikmati yang telah diberikan kepadanya, itu semua karena tidak kenal arti syukur pada Allah, rosul dalam hadis beliau yang pernah bersabda Orang yang paling syukur yang memiliki kona’ah orang yang menerima pemberian Allah, orang yang miskin selamanya adalah yang tak pernah mensyukuri nikmat Allah.

Menurut Alquran datangnya

our troop
Image by °°° Hudson °°° via Flickr

balak (bencana) adalah kerena kurang bersyukurnya kepada semua nikmat Allah, padahal kalau kita bersyukur pasti ditambah nikmat itu apapun bentukanya bisa berbentuk dhohir berupa ditambahnya hartanya dan yang lain adalah diberinya ketentraman jiwa, anak-anak yang sholeh dll belum lagi tambahan kelak di hari kiamat, ada kenikmatan yang lain dari semua yang diberikan Allah untuk hambanya adalah ketentraman jiwa sedangkan harta itu adalah yang paling rendah nilainya, karena Allah ingin menyiksa mereka dengan harta-hartanya, maksiat kita tidak akan mengurangi keagungan kerajaan Allah maka dari itu mereka sebenarnya memaksiati diri sendiri dan bila kita berbuat kebaikan tidak akan menambah megahnya kerajaan Allah itu artinya kita berbuat baik untuk diri sendiri.

Dalam QS Luqman (31): 12 dinyatakan:

Dan sesungguhnya Kami telah menganugerahkan kepada Luqman hikmah, yaitu: “Bersyukurlah kepada Allah. Dan barang siapa yang bersyukur (kepada Allah), maka
sesungguhnya ia bersyukur untuk (manfaat) dirinya sendiri.”

“Dan barangsiapa yang bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri, dan barangsiapa yang kufur (tidak bersyukur), maka sesungguhnya Tuhanku Maha kaya (tidak membutuhka sesuatu) lagi Mahamulia” (QS An-Naml [27]: 40)

Setiap kita mengkufuri nikmat Allah disitu juga terdapat siksaan Allah dan banyak bermacam siksaan lain, malam kaya tapi besok pagi sudah lenyap itu pun bisa terjadi dan sangatlah mudah bagi allah untuk merubah semua itu, ada bentuk siksaan Allah yang kita tak merasa tersentuh dan airmata kita membeku untuk menangisi dosa-dosa kita, kita lupa dengan hari kiamat ini juga adalah salah satu bentuk siksaan Allah juga, tapi ketika orang yang mensyukuri nikmat Allah ia tidak akan pernah mendapat siksaan Allah karena ia meyakini ini adalah yang terbaik untuknya. Kenapa Allah harus menurunkan balak kalau kita mensyukuri nikmat-Nya. Bersyukurlah kepada Allah maka Allah akan memberi sesuatu kepada kita? Kalau kita menghitung nikmat Allah maka kita tak akan pernah mampu dan tidak disebut sebagai orang yang menyembah Allah bila kita tidak bersyukur atas nikmat yang telah Allah beri, sebenarnya syukur itu adalah bimbingan Allah juga

Syukur itu tahapan;

1 Yakin
Hendaklah meyakini bahwa setiap yang diberi Allah itu adalah yang terbaik syukur yang sebenarnya adalah ketika syukur dari hati dan meyakini semua ini tak akan pernah terjadi tanpa ketentuan dari Allah.

2 Ungkapan dengan lidah “Alkhamdulillahi robbil ‘aalamin” meninggalkan yang telah Dilarang Allah kemudian yang terakhir mengungkapkan kalimat “hamdalah”

3 Praktek
Selain dengan ungkapan saja inilah harus dengan amalan, jangan harta yang telah dikirimkan tadi untuk berbuat maksiat kepada Allah karena orang yang mensyukuri nimat Allah itu sebenarnya bersyukur untuk dirinya sendiri,

@ Orang kikir berarti kikir untuk dirinya begitu juga dengan orang yang berbuat baik itu adalah untuk dirinya sendiri.

@ Orang yang syukur artinya ia juga telah bersiap untuk menerima pemberiaan Allah yang lain

@ orang yang bersyukur ia berarti telah mmbentengi dirinya dari siksaan Allah

@ orang yang selalu syukur ia selamanya selalu tentam karena ia meyakini bahwa apabila ia tidak dikasih dari apa yang telah ia minta kepada Allah berarti mungkin ada sesuatu yang bahaya untuk kita, jadi berprasangka yang baik itu kepada Allah dalam keadaan bagaimanapun. Tapi kita punya musuh yang tidak pernah mau melihat kita ini pasrah terhadap ketentuan Allah dan musuh itu adalah Setan, jadi kita ini main tarik-tarikkan dengan setan mereka menggangu dari depan maksudnya kita ini bersiap untuk akhirat tapi mereka ganggu kita, dari belakang membuat kita rakus disibukkan mencari harta untuk anak-anak kita sampai tak peduli halal haram sehingga lupa akan akhiratnya, dari samping kanan dirusak agama kita disesatkan, sedangkan samping kiri kita dibuaikan dengan keindahan dunia yang dianggap abadi sehingga mereka mengejarnya sehingga lupa keindahan akhirat yang jauh lebih indah kekal selamanya tapi kita punya dua jalan yaitu atas dan bawah, atas bermunajat kepada Allah bawah apabila kita perbanyak sujud kita mereka iblis tak akan pernah mampu mengganggu kita.

Tapi sesungguhnya manusia itu kebanyakan selalu mengkufuri nikmat Allah, setan menginginkan kita tak bersyukur atas nikmat Allah dan maka kita harus gagalkan niat setan tersebut, Allah memberikan pengelihatan, pendengaran, hati, dan akal tapi kita pergunakan untuk mengkufuri nikmat Allah dan kita ini tidak perlulah menuding yang lain intropeksilah diri sendiri.

Orang itu adalah sadar atas semua nikmat Allah setelah ditinggalkan nikmat itu, maka jagalah dengan mensyukuri nikmat tersebut dan orang yang tak bersyukur berarti orang itu bersiap-siap untuk mendapat sanksi dengan dicabutnya nikmat dari Allah, orang pada hakikatnya tidak pernah mensyukuri nikmat Allah kecuali hanya sangat sedikit orang karena itu adalah ibadah tingkat tinggi.

Takut berbuat dosa juga merupakan nikmat Allah sehingga hidupnya akan tentram selamanya segala sesuatu yang ia lakukan. Kalau kita sampai pada tahapan ini berarti telah melakukan syukur yang sebenarnya, ada pedoman yang sangat bagus kalau soal beribadah kepada Allah maka lihatlah orang yang diatasmu, tapi kalau soal harta lihatlah orang yang berada dibawahmu meski makan 3x sehari dengan lauk apa adanya maka lihatlah yang makan 2x sehari dan seterusnya tapi jangan sampai sebaliknya melihat harta orang yang diatas kita sehingga kita lupakan yang dibawah kita dan hanya mengejar harta itu tanpa sempat mensyukurinya. Orang yang berterimakasih kepada sesama manusia itu juga wujud syukur kita kepada Allah.

Surat Luqman (31): 14 menjelaskan hal ini, yaitu
dengan firman-Nya:

“Bersyukurlah kepada-Ku, dan kepada dua orang ibu bapakmu; hanya kepada-Kulah kembalimu”